BLANTERORIONv101

Keterkaitan PM dengan Kurikulum, Proses Pembelajaran dan Asesmen - Strategi Implementasi Pembelajaran Mendalam

Dikirim: 15 Jul 2026
Edit Terakhir: 15 Jul 2026
Image

Implementasi PM memerlukan penyesuaian kurikulum yang ada saat ini. Penyesuaian pada kurikulum yang diperlukan untuk menerapkan PM adalah terkait: 1) penajaman materi esensial mata pelajaran, 2) peningkatan keterlibatan belajar peserta didik, 3) pengurangan beban administrasi bagi guru, dan 4) pemanfaatan teknologi, informasi, komunikasi, dan digital. Dengan demikian, guru memiliki waktu yang cukup untuk mengembangkan berbagai aktivitas pembelajaran yang berorientasi pada profil lulusan.

Penajaman materi mata pelajaran merupakan konsekuensi dari implementasi PMagar lebih berorientasi pada kedalaman pengetahuan dan kompetensi peserta didik. Dalam rangka menerapkan PM, struktur dan alokasi waktu mata pelajaran SD, SMP, SMA, SMK, dan yang sederajat perlu dievaluasi termasuk evaluasi berbagai pembelajaran kokurikuler dan ekstrakurikuler untuk penguatan soft skills, seperti Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Kepramukaan, dan lain-lain. Selain itu, evaluasi juga perlu dilakukan terhadap beban administrasi guru, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi digital yang saat ini sudah dilaksanakan.

Karakteristisk kurikulum dalam Implementasi PM adalah sebagai berikt:

1. Dinamis, Fleksibel, dan Responsif

Kurikulum bersifat dinamis, fleksibel dan responsif, sehingga memungkinkan adanya pembaruan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kurikulum yang dinamis, fleksibel dan responsif terhadap perkembangan teknologi dan sosial budaya akan meningkatkan relevansi pembelajaran dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, sekolah dapat mengimplementasikan kurikulum yang disesuaikan dengan konteks sekolah.

2. Berpusat pada Peserta Didik

Kurikulum yang responsif terhadap minat, motivasi, renjana (passion), dan bakat peserta didik memberikan kesempatan untuk personalisasi dan memberi ruang bagi peserta didik untuk menjadi agen dalam perjalanan pembelajaran mereka. Kurikulum yang berpusat pada peserta didik akan mendukung pengembangan potensi setiap individu dan memungkinkan mereka belajar sesuai dengan gaya serta ritme masing-masing.

3. Pembelajaran Terpadu

Kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengikuti pembelajaran terpadu multidisiplin dan antardisiplin. Pembelajaran terpadu menyiapkan peserta didik agar dapat menghubungkan pengetahuan antar bidang ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan masyarakat.

4. Relevan dan Peduli dengan Kehidupan Masyarakat

Kurikulum memuat substansi pelajaran terkait dengan isu-isu dan tantangan kehidupan, mendorong peserta didik untuk mampu hidup, memiliki penghidupan, dan berkontribusi pada kehidupan. Peserta didik terlibat dalam proyek-proyek belajar yang berhubungan dengan antara lain kehidupan sosial, kesehatan masyarakat, politik, perubahan iklim, energi, dan inovasi teknologi. Pembelajaran yang relevan dengan kehidupan masyarakat akan memberi kesempatan peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang kontekstual.

5. Pengembangan Keterampilan Tingkat Tinggi

Kurikulum berorientasi pada pengembangan keterampilan tingkat tinggi, seperti kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, dan berpikir kritis. Oleh karena itu, desain kurikulum harus berfokus pada pengembangan keterampilan-keterampilan itu melalui pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis penyelidikan, dan pembelajaran berbasis pengalaman.

6. Pemanfaatan Teknologi Digital

Karakteristik pedagogi PM memberi perhatian yang besar terhadap interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan mitra belajar dan pemangku kepentingan lainnya. Interaksi memberi umpan balik pada proses pembelajaran yg mencirikan PM. Interaksi akan lebih optimal terjadi jika pembelajaran memanfaatkan teknologi digital. Pemanfaatan teknologi digital bahkan untuk wilayah yang belum terjangkau fasilitas internet dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti sekarang, termasuk Semi Online, atau Internet Offline (Digital Library), WAN, LAN dan sebagainya.

Implementasi PM mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Guru berperan sebagai aktivator dan motivator yang membantu peserta didik mengeksplorasi, berkreasi, dan mengaitkan hubungan antar konsep. Beberapa karakteristik pendekatan PM dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan antara lain pembelajaran aktif, kolaboratif, pembelajaran terdiferensiasi. Dengan demikian, guru harus memahami karakteristik peserta didik dengan berbagai strategi pembelajaran untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Selanjutnya asesmen pembelajaran yang mengimplementasi PM difokuskan tidak hanya pada asesmen hasil belajar, tetapi juga asesmen proses yang mengarahkan peserta didik untuk terus belajar dan berkembang, serta merasakan kegembiraan dalam proses belajar. Asesmen menjadi sarana refleksi peserta didik dan guru untuk mengembangkan pembelajaran yang memotivasi, berkesadaran, bermakna, bergembira, dan memberikan pengalaman holistik. Asesmen dalam penerapan PM memiliki prinsip antara lain keadilan, keterbukaan, objektivitas, keberlanjutan, holistik, keanekaragaman, integritas, akuntabilitas, responsivitas, dan keterhubungan dengan tujuan pendidikan. Prinsip-prinsip asesmen ini harus berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kompetensi peserta didik, dan memberikan gambaran yang akurat tentang pencapaian hasil belajar.

Pembelajaran Mendalam membutuhkan asesmen formatif yang memberikan umpan balik berkala yang membantu peserta didik memahami kemajuan belajar mereka, kekuatan, dan area yang perlu diperbaiki agar peserta didik mampu memperdalam pemahaman mereka dan melakukan perbaikan proses belajar secara berkelanjutan.

Pada akhir pembelajaran, asesmen sumatif pada tingkat sekolah memberikan gambaran yang jelas tentang sejauh mana peserta didik telah memahami dan menguasai materi yang diajarkan. Hasil asesmen ini menjadi indikator pencapaian kompetensi peserta didik secara keseluruhan. Asesmen sumatif pada tingkat nasional memastikan bahwa proses pembelajaran berlangsung efektif dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, baik pada level individu (peserta didik) maupun sistem pendidikan secara keseluruhan. Asesmen sumatif dalam skala nasional berfungsi untuk sertifikasi peserta didik, pemetaan mutu pendidikan, dan pertimbangan seleksi peserta didik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, namun tidak menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

Pembelajaran Mendalam mendorong peserta didik untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan merefleksikan kemajuan mereka sehingga mereka mampu melakukan asesmen diri, merefleksi capaian pembelajaran mereka sendiri dan menetapkan tujuan pribadi. Hal ini membantu peserta didik mengembangkan keterampilan metakognitif dan mendorong mereka untuk lebih proaktif dalam pembelajaran mereka. Asesmen dalam PM relevan dengan pencapaian profil lulusan yang mendukung pengembangan kompetensi peserta didik secara menyeluruh.

Image

Demikian pembahasan tentang Keterkaitan PM dengan Kurikulum, Proses Pembelajaran dan Asesmen - Strategi Implementasi Pembelajaran Mendalam. Semoga dapat menambah pemahamannya tentang Pembelajaran Mendalam,. Kritik dan saran melalui kolom komentar dibawah. Save dan share artikel ini untuk berbagi pengetahuan dengan klik ikon dibawah ini.


Image
Ajoefahmi
Blog Seputar Pendidikan, Kurikulum, Pembelajaran, Bahasa, Penerjemahan, Kajian Islam, Manajemen Madrasah, Sosiologi, Grafologi dan Budaya.

Komentar