Artikel Sebelumnya: Esensi Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran, Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah
Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama.
Hasil penelitian Vygotsky
membuktikan bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk dirinya sediri,
mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi dengan
temannya. Vigotsky merupakan salah satu pengagas teori konstruktivisme sosial.
Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development”
atau ZPD. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini bisa bermakna “next“.
Menurut Vygotsky, setiap manusia (dalam
konteks ini disebut peserta didik) mempunyai potensi tertentu. Potensi tersebut
dapat teraktualisasi dengan cara menerapkan ketuntasan belajar (mastery
learning). Akan tetapi di antara potensi
dan aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat wilayah abu-abu. Guru
memiliki berkewajiban menjadikan wilayah “abu-abu”yang ada pada peserta didik
itu dapat teraktualisasi dengan cara belajar kelompok.
Seperti termuat dalam
gambar, Vygostsky mengemukakan tiga wilayah
yang tergamit dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”, “can do with help“, dan “can do alone“. ZPD merupakan wilayah “can do with help”yang sifatnya tidak permanen, jika proses pembelajaran
mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau
pembelajaran kolaboratif.
Ada empat sifat
kelas atau pembelajaran kolaboratif. Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan
peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian
guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau
pembelajaran kolaboratif.
1. Guru dan peserta didik saling berbagi
informasi.
Dengan pembelajaran
kolaboratif, peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan
membina ilmu pengetahuan, pengalaman personal, bahasa komunikasi, strategi dan
konsep pembelajaran sesuai dengan teori, serta menautkan kondisi sosiobudaya
dengan situasi pembelajaran. Di sini, peran guru lebih banyak sebagai
pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara
rijid.
Contoh:
Jika guru mengajarkan topik “hidup bersama secara
damai.” Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan topik
tersebut berpeluang menyatakan sesuatu pada sesi pembelajaran, berbagi idea,
dan memberi garis-garis besar arus komunikasi antar peserta didik. Jika
peserta didikmemahami dan melihat fenomena nyata kehidupan bersama yang damai
itu, pengalaman dan pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan
pembelajaran mereka. Mereka pun akan termotivasi untuk melihat dan mendengar.
Di sini peserta didik juga dapat merumuskan kaitan antara proses pembelajaran
yang sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya.
2. Berbagi tugas dan
kewenangan.
Pada pembelajaran
atau kelas kolaboratif, guru berbagi
tugas dan kewenangan dengan peserta didik, khususnya untuk hal-hal tertentu.
Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri,
berbagi strategi dan informasi, menghormati antarsesa, mendoorong tumbuhnya
ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan
menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna.
a. Guru sebagai
mediator.
Pada pembelajaran
atau kelas kolaboratif, guru berperan sebagai mediator atau perantara. Guru berperan membantu menghubungkan informasi
baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka
mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki
kesungguhan untuk belajar.
b. Kelompok peserta
didik yang heterogen.
Sikap, keterampilan,
dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas.
Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan
keterampilan mereka, berbagi informasi,serta mendengar atau membahas sumbangan
informasi dari peserta didik lainnya. Dengan cara seperti ini akan muncul
“keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik.
Contoh Pembelajaran
Kolaboratif
Guru ingin mengajarkan
tentang konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang
objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu
(card sort). Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut
ini.
- Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
- Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
- Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekanhya.
- Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.
3. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif
Banyak merode yang dipakai
dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Beberapa di antaranya dijelaskan
berikut ini.
a. JP = Jigsaw
Procedure.
Pembelajaran dilakukan
dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang
berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. Agar masing-masing peserta didik
anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi
yang menyeluruh. Penilaian didasari
pada rata-rata skor tes kelompok.
b. STAD = Student Team
Achievement Divisions.
Peserta didik dalam suatu
kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap
kelompok bertindak saling membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang
akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan
kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya.
Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok
peserta didik.
c. CI = Complex
Instruction.
Titik tekan metode
ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang
berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika, dan ilmu
pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua
peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini
umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat
heterogen. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.
d. TAI = Team
Accelerated Instruction.
Metodeini merupakan
kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran
individual. Secara bertahap, setiap peserta didik sebagai anggota kelompok
diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu
dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama
telah diselesaikan dengan benar, setiap peserta didik mengerjakan soal-soal
berikutnya. Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan soal
tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama.
Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian
didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok.
e. CLS = Cooperative
Learning Stuctures.
Pada penerapan metode
pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik
(berpasangan). Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor
dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee.
Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah
ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan
sebelumnya, kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran.
f. LT = Learning
Together
Pada metode ini
kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam
kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set
lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
g. TGT =
Teams-Games-Tournament.
Pada metode ini, setelah
belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba
dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.
Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik.
h. GI = Group
Investigation.
Pada metode ini semua
anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta
perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang
akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana
perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasari pada proses
dan hasil kerja kelompok.
i. AC =
Academic-Constructive Controversy.
Pada metode ini setiap
anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik
intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik
bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan
pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan
masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan
psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota
maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
j. CIRC = Cooperative
Integrated Reading and Composition.
Pada metode pembelajaran
ini mirip dengan TAI. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca,
menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para peserta didik saling
menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun
lisan di dalam kelompoknya.
4. Pemanfaatan Internet
Pemanfaatan internet
sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif. Karena memang,
internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan
ketersediaan informasi yang luas dan mudah.
Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah
dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia.
Penggunaan internet
disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara
eksponensial. Masa depan adalah milik peserta didik yang memiliki akses hampir
ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu memanfaatkan informasi
diterima secepat mungkin.
Daftar Pustaka
Allen, L. (1973). An
examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum
Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. Science
Education, 57, 123-151.
Padilla, M., Cronin, L.,
& Twiest, M. (1985). The development and validation of the test of basic
process skills. Paper presented at the annual meeting of the National
Association for Research in Science Teaching, French Lick, IN.
Thiel, R., & George,
D. K. (1976). Some factors affecting the use of the science process skill of
prediction by elementary school children. Journal of Research in Science
Teaching, 13, 155-166.
Demikian pembahasan tentang Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif. Semoga dapat menambah pemahamannya tentang Pembelajaran,. Kritik dan saran melalui kolom komentar dibawah. Save dan share artikel ini untuk berbagi pengetahuan dengan klik ikon dibawah ini.

Social Media